Breaking News
Loading...
Senin, 11 Juli 2011

PENDIDIKAN BUDI PEKERTI Deskripsi dan Strategi Pembelajaran di Indonesia

18.41
PENDIDIKAN BUDI PEKERTI
Deskripsi dan Strategi Pembelajaran di Indonesia

A.     PENDAHULUAN
Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun lalu, presiden Megawati  menyatakan  bahwa  persoalan  pokok  yang  dihadapi  dalam  sistem pendidikan nasional saat ini dan di masa yang akan datang adalah memperkokoh pendidikan  watak  dan  budi  pekerti  melalui  proses  pengajaran,  pengasuhan  dan pemberian  bimbingan  kepada  peserta  didik.  (Kompas,  3  Mei  2003).  Pendidikan watak  dan  budi  pekerti  merupakan  elemen  dasar  yang  sangat  penting  dalam pembangunan karakter bangsa.
Sejalan  dengan  pernyataan  di  atas,  persoalan  besar  yang  melingkupi kehidupan  berbangsa  dan  bernegara  di  era  reformasi  ini  adalah  keterpurukan moral  pada  sebagian  besar  warga  bangsa  maupun  penyelenggara  negara  itu sendiri.  Contoh  sederhana  saja,  betapa  sulitnya  bangsa  ini  menghapus  korupsi, kolusi  dan  nepotisme  (KKN).  Begitu  sulitnya  mewujudkan  rasa  tenggang  rasa antar  sesama.  Mengapa  setiap  perselisihan  harus  diselesaikan  melalui  jalan kekerasan, apakah itu saudara sekandung atau saudara sebangsa. 
Di  lingkungan  masyarakat  luas  kita  menyaksikan  peristiwa  perendahan martabat  manusia,  tawuran  antar  rekan  pelajar,  pemuda  mengejek  pemudi  yang sedang  lewat,  tindak  kekerasan  oleh  preman,  oknum  penguasa,  korupsi  di  depan umum.  Jalan-jalan  haram  terus  bertambah  dalam  proses  memperkaya  diri  dan golongan,  mulai  dari  “salam  tempel”  di  jalan  raya,  kantor  lurah,  camat,  bupati, dan    tempat-tempat  pelayanan  kemasyarakatan.  Tak  sedikit  gubernur,  wali  kota, bupati,  dan  pejabat  lain  yang  acapkali  “diperas”  wartawan,  LSM,  dan  bahkan anggota DPR(D) yang bercita-cita memperjuangkan nasib rakyat. Sebaliknya, ada juga  dari  sejumlah  oknum  pejabat  yang  main  sogok  dalam  proses  merebut kedudukan dalam pemerintahan.
Gambaran  di  atas  cukup  menunjukkan  bahwa  bangsa  Indonesia  saat  ini memang  tengah  dilanda  dekadensi  moral  yang  luar  biasa.  Hal  demikian  telah dinyatakan  sebagai  kondisi  buruk  bangsa  Indonesia  pasca  Orde  Baru  menurut ketetapan  MPR  Nomor  X/MPR/1998  Tentang  Pokok-Pokok  Reformasi Pembangunan  Dalam  Rangka  Penyelamatan  Dan  Normalisasi  Kehidupan Nasional  Sebagai  Haluan  Negara.  Jati  diri  bangsa  yang  disiplin,  jujur,  beretos kerja  tinggi  serta  berakhlak  mulia  belum  dapat  diwujudkan  bahkan  cenderung menurun.    Aksi-aksi  brutal  oleh  sebagian  warga  masyarakat  berupa  penjarahan dan  perampokan  serta  perilaku  dan  tindakan  yang  tidak  terpuji  lainnya  yang melanggar  hukum  serta  agama  yang  terjadi  akhir  akhir  ini  sungguh-sungguh bertentangan  dengan  akhlak  mulia  dan  budi  pekerti  luhur  yang  bersumber  dari norma-norma dan ajaran agama serta nilai-nilai budaya bangsa.
Pada titik demikian, orang kemudian berpaling pada pendidikan. Pendidikan nasional  dianggap  telah  gagal  dalam  menyemai  moral  serta  karakter  baik  bagi warga  negara.  Di  bidang  pendidikan  masalah  yang  dihadapi  adalah berlangsungnya  pendidikan  yang  kurang  bermakna  bagi  pengembangan  pribadi dan  watak  peserta  didik,  yang  berakibat  hilangnya  kepribadian  dan  kesadaran akan  makna  hakiki  kehidupan.  Mata  pelajaran  yang  berorientasi  akhlak  dan moralitas  serta  pendidikan  agama  kurang  diberikan  dalam  bentuk  latihan-latihan pengamalan untuk menjadi corak kehidupan sehari-hari (GBHN 1999-2004). 
Akhirnya  pendidikan  budi  pekerti,  pendidikan  watak,  pendidikan  karakter, pendidikan  nilai  atau  entah  apa  namanya  menjadi  begitu  penting  dalam  situasi demikian.    Namun  anehnya,  pendidikan  budi  pekerti  sepertinya  tidak  penting  di tengah  –tengah  pendidikan  eksak  ,  akademik  atau  pendidikan  profesi.  Dalam dunia  global  sekarang  ini  pendidikan  untuk  kepentingan  dunia  kerja  itulah  yang dianggap  penting.  Pendidikan  budi  pekerti  hanyalah  pelengkap  yang  secukupnya saja diberikan pada perserta didik. 
Oleh karena itu menjadi penting untuk diketahui bagaimana pendidikan budi pekerti  di  Indonesia  untuk  masa  depan.  Akankah  pendidikan  budi  pekerti dianggap sekedar melengkapi saja pada sistem pendidikan nasional kita?
B.     PENDIDIKAN BUDI PEKERTI
Pendidikan  budi  pekerti  memiliki  esensi  dan  makna  yang  sama  dengan pendidikan  moral  dan  pendidikan  akhlak.  Tujuannya  adalah  membentuk  pribadi anak,  supaya  menjadi  manusia  yang  baik,  warga  masyarakat,  dan  warga  negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai  sosial  tertentu,  yang  banyak  dipengaruhi  oleh  budaya  masyarakat  dan bangsanya.  Oleh  karena itu,  hakikat  dari  Pendidikan  Budi  Pekerti  dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang  bersumber  dari  budaya  bangsa  Indonesia  sendiri,  dalam  rangka  membina kepribadian generasi muda.
Menjadi bangsa yang berakhlak mulia, berkarakter baik dan berbudi pekerti luhur  merupakan  tujuan  daripada  bangsa  Indonesia  .    Pada  GBHN  1999-2004 disebutkan  bahwa  visi  dari  bangsa  Indonesia  adalah  terwujudnya  masyarakat Indonesia  yang  damai,  demokratis,  berkeadilan,  berdaya  saing,  maju  dan sejahtera,  dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang didukung oleh manusia  Indonesia  yang  sehat,  mandiri,  beriman,  bertakwa,  berakhlak  mulia,cinta tanah air, berkesadaran hukum dan lingkungan menguasai ilmu pengetahuan dan  teknologi,  memiliki  etos  kerja  yang  tinggi  serta  berdisiplin.    Salah  satu  misi bangsa Indonesia adalah peningkatan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari  untuk  mewujudkan  kualitas  keimanan  dan  ketakwaan  kepada  Tuhan Yang  Maha  Esa  dalam  kehidupan  dan  mantapnya  persaudaraan  umat  beragama yang berakhlak mulia, toleran, rukun dan damai.
Untuk  mewujudkan  visi  dan  misi  tersebut  maka  faktor  pendidikan menjadi penting.  Arah  pembangunan  pendidikan  di  masa depan  depan  ialah mewujudkan sistem  dan  iklim  pendidikan  nasional  yang  demokratis  dan  bermutu  guna memperteguh  akhlak  mulia,  kreatif,  inovatif,  berwawasan  kebangsaan,  cerdas, sehat,  berdisiplin  dan  bertanggungjawab,  berketrampilan  serta  menguasai  ilmu pengetahuan  dan  teknologi  dalam  rangka  mengembangkan  kualitas  manusia Indonesia.
Dalam  Undang-undang  No  20  tahun  2003  tentang  Sistem  Pendidikan Nasional  disebutkan  bahwa  Pendidikan  nasional  berfungsi  mengembangkan kemampuan  dan  membentuk  watak  serta  peradaban  bangsa  yang  bermartabat dalam  rangka  mencerdaskan  kehidupan  bangsa,  bertujuan  untuk  berkembangnya potensi  peserta  didik  agar  menjadi  manusia  yang  beriman  dan  bertakwa  kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Mengacu  pada  aturan-aturan  dasar  tersebut,  secara  formal  upaya-upaya menyiapkan  pendidikan,  kondisi,  sarana/prasarana,  kegiatan,  ,  dan  kurikulum yang  mengarah  kepada  pembentukan  akhlak  dan  budi  pekerti  generasi  muda bangsa memiliki landasan hukum yang kuat. Namun, sinyal tersebut baru disadari ketika terjadi krisis akhlak yang menerpa semua lapisan masyarakat. Krisis akhlak tersebut bukan hanya terjadi pada orang tua, orang dewasa, melainkan juga pada anak-anak usia sekolah bahkan pada para penyelenggara negara
Pentingnya  nilai  akhlak,  moral  serta  budi  luhur  bagi  semua  warga  bangsa kiranya tidak perlu diingkari. Negara atau suatu bangsa bisa runtuh karena pejabat dan  sebagian  rakyatnya  berperilaku  tidak  bermoral.  Perilaku  amoral  akan memunculkan  kerusuhan,  keonaran,  penyimpangan  dan  lain-lain  yang menyebabkan  kehancuran  suatu  bangsa.  Mereka  tidak  memiliki  pegangan  dalam menegara  dan  memasyarakat  dalam  kehidupan  bernegara  dan  berbangsa.  Oleh karena  itu,  nilai  perlu  diajarkan  agar  generasi  sekarang  dan  yang  akan  datang mampu berperilaku sesuai dengan moral yang diharapkan.
Hal  tentang  pentingnya  pendidikan  nilai  moral  baru  disadari  ketika  sinyal kehancuran  moral  mulai  tampak  seperti  para  era  reformasi  ini.  Tetapi  ironis memang  dunia  pendidikan  kita  telah  memberikan  porsi  yang  sangat  besar  untuk pengetahuan,  tetapi  melupakan  pengembangan  sikap/nilai  dan  perilaku  dalam pembelajarannya.  Dunia  pendidikan  sangat  meremehkan  mata-mata  pelajaran yang  berkaitan  dengan  pembentukan  karakter  bangsa.  Pelajaran-pelajaran  yang mengembangkan karakter bangsa seperti Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN),  Pendidikan  Agama,  dan  Ilmu  Pengetahuan  Sosial dianggap remeh dan mudah saja untuk dididikkan.
Berlatar  dari  adanya  gejala  dekadensi  moral  akhir-akhir  ini  maka  banyak pihak mulai memikirkan lagi tentang perlunya pendidikan nilai moral, pendidikan watak atau pendidikan budi pekerti diajarkan di sekolah-sekolah. Namun mereka terpecah dalam tiga pendapat (Maman Rachman, 2003). Ketiga pendapat tersebut adalah pendapat pertama, bahwa pendidikan budi pekerti diberikan berdiri sendiri sebagai suatu  mata  pelajaran.  Pendapat kedua,  pendidikan  budi  pekerti diberikan secara  terintegrasi  dalam  mata  pelajaran  civics/PPKn,  pendidikan  agama,  dan mata  pelajaran  lain  yang  relevan.  Pendapat  ketiga,  pendidikan  budi  pekerti terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran. 

C.     STRATEGI PENDIDIKAN BUDI PEKERTI
Berkaca pada sejarah pendidikan di Indonesia maka pendidikan budi pekerti pernah diberikan dalam bentuk mata pelajaran tersendiri. Selanjutnya  pendidikan budi  pekerti  diintegrasikan  kedalam  pelajaran  civics,  dan  agama.  Khusus mengenai  pelajaran  civic  atau  kewarganegaraan  ini  mengalami  beberapa  kali perubahan. Pada tahun 1957 mulai diperkenalkan         mata   pelajaran Kewarganegaraan . Tahun 1961 Kewarganegaraan berganti nama menjadi Civics dan berubah lagi pada tahun 1968 menjadi Pendidikan Kewargaan Negara (PKN). Pada  kurikulum  1975  dimulai  babak  baru  pendidikan  civic  di  Indonesia  dengan memakai  nama  Pendidikan  Moral  Pancasila.  Mata  pelajaran  ini  dikandung maksud sebagai penanaman nilai nilai luhur Pancasila pada generasi muda. Nama pelajaran ini tetap dipertahankan pada kurikulum 1984.
Tahun  1994,  pendidikan  civic  berubah  lagi  menjadi  Pendidikan  Pancasila dan  Kewarganegaraan  (PPKn).  PPKn  1994  sebagai  penggabungan  bahan  kajian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang tampil dalam bentuk pengajaran konsep nilai  yang disaripatikan dari Pancasila dan P4. Pada buku-buku pelajaran PPKn  persekolahan  kita  melihat  adanya  integrasi  budi  pekerti  pada  pelajaran tersebut. 
Dari  paparan  di  atas  sebenarnya  upaya  melakukan  pendidikan  budi  pekerti di  Indonesia  telah  dilakukan  yaitu  dalam  bentuk  pengintegrasian  pendidikan tersebut ke dalam mata pelajaran yang relevan seperti agama, dan PPKn. Namun dengan  fenomena  krisis  moral  seperti  sekarang  ini,  pendidikan  yang  bernuansakan budi pekerti seperti agama dan PPKn tersebut dianggap telah gagal menjalankan  misinya.  Kegagalan  ini  disebabkan  oleh  karena  beberapa  hal, pertama,  pelajaran-pelajaran  yang  mengembangkan  karakter  bangsa  seperti Pendidikan  Pancasila  dan  Kewarganegaraan  (PPKN),  Pendidikan  Agama,  Ilmu Pengetahuan  Sosial  dalam  pelaksanaan  pembelajarannya  lebih  banyak menekankan pada aspek kognitif daripada aspek afektif dan psikomotor. Kedua , penilaian  dalam  mata-mata  pelajaran  yang  berkaitan  dengan  pendidikan  nilai belum secara total mengukur sosok utuh pribadi siswa. (Maman Rachman, 2001).
Senada  dengan  pendapat  di  atas,  Azyumardi  Azra  menyebut  bahwa  PPKn telah  gagal  dalam  mensosialisasikan  nilai-  nilai  demokrasi  karena  tiga  hal (Kompas,  18  Oktober  2001).  Pertama  secara  substantif  PPKn  tidak  secara terencana dan terarah mencakup materi dan pembahasan yang lebih terfokus pada pendidikan  demokrasi  dan  kewarganegaraan.  Tidak  heran  kalau  materi-materi yang ada umumnya terpusat pada pembahasan yang bersifat idealistik, legalistik, dan  normatif.  Kedua  meskipun  materinya  potensial  untuk  pendidikan  demokrasi dan  kewarganegaraan,  tetapi  tidak  bisa  berkembang  karena  pendekatan  dalam pembelajarannya  bersifat  indoktrinatif,  regimentatif  (bersifat  kekuasaan), monologis,  dan  tidak  partisipatif.  Ketiga,  substansi  pelajaran  itu  lebih  teoritis. Tidak heran kalau terdapat kesenjangan yang jelas antara teoritis dan wacana yang dibahas dengan realitas sosial politik yang ada.
Mengawali  munculnya  kurikulum  2004  Standar  Kompetensi  sebagai pengganti kurikulum 1994, nampaknya pendidikan budi pekerti tetap ditempatkan sebagai pendidikan yang terintegrasi bukan merupakan mata pelajaran tersendiri. Badan  Penelitian  dan  Pengembangan  Pusat  Kurikulum  ,  Departemen  Pendidikan Nasional  pada  tahun  2001  telah  mengeluarkan  naskah  Kurikulum  Berbasis Kompetensi untuk mata pelajaran Budi Pekerti di tingkat Sekolah Dasar. 
Pengertian  pendidikan  budi  pekerti  dapat  ditinjau  secara  konsepsional  dan secara  operasional.  Secara  konsepsional  pendidikan  budi  pekerti  mencakup  hal-hal sebagai berikut:
a.   Usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik menjadi manusia seutuhnya yang berbudi pekerti luhur dalam segenap peranannya sekarang dan masa yang akan datang.
b.   Upaya  pembentukan,  pengembangan,  peningkatan,  pemeliharaan  dan perbaikan  perilaku  peserta  didik  agar  mereka  mau  dan  mampu  melaksanakan tugas-tugas  hidupnya  secara  selaras,  serasi,  seimbang  (lahir  batin,  material spiritual dan individual sosial).
c.   Upaya pendidikan untuk membentuk peserta didik menjadi pribadi seutuhnya yang  berbudi  pekerti  luhur  melalui  kegiatan  bimbingan,  pembiasaan, pengajaran dan latihan, serta keteladanan.
Pendidikan  budi  pekerti  secara  operasional  adalah  upaya  untuk  membekali peserta  didik  melalui  kegiatan  bimbingan,  pengajaran  dan  latihan  selama pertumbuhan dan perkembangan dirinya sebagai bekal bagi masa depannya, agar  memiliki  hati  nurani  yang  bersih,  berperangai  baik,  serta  menjaga  kesusilaan dalam  melaksanakan  kewajiban  terhadap  Tuhan  dan  terhadap  sesama  makhluk, sehingga  terbentuk  pribadi  seutuhnya  yang  tercermin  pada  perilaku  berupa ucapan,  perbuatan,  sikap,  pikiran,  perasaan,  kerja  dan  hasil  karya  berdasarkan nilai-nilai agama serta norma dan moral luhur bangsa.
Budi  pekerti  berisi  nilai-nilai  perilaku  manusia  yang  akan  diukur  menurut kebaikan  dan  keburukannya  melalui  ukuran  norma  agama,  norma  hukum,  tata krama  dan  sopan  santun,  norma  budaya/adat  istiadat  masyarakat.  Budi  pekerti akan  mengidentifikasi  perilaku  positif  yang  diharapkan  dapat  terwujud  dalam perbuatan, perkataan, pikiran, sikap, perasaan, dan kepribadian peserta didik Strategi  yang  dilakukan  dari  Kurikulum  ini  adalah  pengintegrasian pendidikan budi pekerti. Pendidikan Budi Pekerti terintegrasi dalam seluruh mata pelajaran  terutama  dalam  pada  mata  pelajaran  Agama  dan  Pendidikan Kewarganegaraan.  Pendidikan  budi  pekerti  makin  diperjelas  wujudnya  yaitu dengan:
1.     Penerapan  pendidikan  budi  pekerti  bukan  hanya  pada  ranah  kognitif  saja, melainkan  harus  berdampak  positif  terhadap  ranah  afektif  yang  berupa  sikap dan perilaku  peserta didik dalam kehidupan sehari-hari;
2.     Penerapan  pengintegrasian  budi  pekerti  dilakukan  melalui  keteladanan, pembiasaan,  pengkondisian  lingkungan  dan  kegiatan-kegiatan  spontan  serta kegiatan terprogram;
3.     Pengembangan nilai-nilai budi pekerti sesuai dengan kondisi peserta didik dan perkembangan masyarakat (diversifikasi).
Penerapan pendidikan budi pekerti dapat dilakukan dengan berbagai strategi pengintegrasian. Strategi yang dapat dilakukan adalah:
1.     Pengintegrasian dalam kegiatan sehari-hari.  Pelaksanaan kegiatan tersebut dapat dilakukan melalui:
a.     Keteladanan/contoh
Kegiatan pemberian contoh/teladan yaitu suatu kegiatan yang dilakukan oleh pengawas,  kepala  sekolah,  staf  administrasi  di  sekolah  yang  dapat  dijadikan model bagi peserta didik. 
b.     Kegiatan spontan
Kegiatan spontan yaitu kegiatan yang  dilaksanakan secara spontan pada saat itu  juga.  Kegiatan  ini  biasanya  dilakukan  pada  saat  guru  mengetahui sikap/tingkah  laku    peserta  didik  yang  kurang  baik,  seperti  meminta  sesuatu dengan berteriak, mencoret dinding. 
c.     Teguran
Guru  perlu  menegur  peserta  didik  yang  melakukan  perilaku  buruk  dan mengingatkannya  agar  mengamalkan  nilai-nilai  yang  baik  sehingga  guru dapat membantu mengubah tingkah laku mereka.
d.     Pengkondisian lingkungan
Suasana  sekolah  dikondisikan  sedemikian  rupa  dengan  penyediaan  sarana fisik.  Contoh  penyediaan  tempat  sampah,  jam  dinding,  slogan-slogan mengenai  budi  pekerti  yang  mudah  dibaca  oleh  peserta  didik,  aturan/tata tertib  sekolah  yang  ditempelkan  pada  tempat  yang  strategis  sehingga  setiap peserta didik mudah membacanya.
e.     Kegiatan rutin
Kegiatan  rutinitas  merupakan  kegiatan  yang  dilakukan  peserta  didik  secara terus  menerus  dan  konsisten  setiap  saat. Contoh kegiatan ini  adalah  berbaris masuk  ruang  kelas,  berdoa  sebelum  dan  sesudah  kegiatan,  mengucapkan salam bila bertemu dengan orang lain, membersihkan kelas/belajar.
2.     Pengintegrasian dalam kegiatan yang diprogramkan Kegiatan  ini  merupakan  kegiatan  yang  jika  akan  dilaksanakan  terlebih dahulu  dibuat  perencanaannya  atau  diprogramkan  oleh  guru.  Hal  ini dilakukan jika guru menganggap perlu memberikan pemahaman atau prinsip-prinsip moral yang diperlukan. 
Contoh:
Budi Pekerti
Contoh Pengintegrasian
Taat kepada ajaran agama
Diintegrasikan pada kegiatan peringatan hari-hari besar keagamaan
Toleransi
Diintegrasikan pada saat kegiatan yang menggunakan metode tanya jawab, diskusi kelompok
Disiplin
Diintegrasikan pada saat kegiatan olah-raga, upacara bendera, dan menyelesaikan tugas yang diberikan guru
Tanggung jawab
Diintegrasikan pada saat tugas piket kebersihan kelas dan dalam menyelesaikan tugas yang diberikan guru
Kasih sayang
Diintegrasikan pada saat melakukan kegiatan sosial dan kegiatan melestarikan lingkungan
Gotong royong
Diintegrasikan pada saat kegiatan bercerita/dis-kusi tentang gotong royong, menyelesaikan tugas-tugas keterampilan
Kesetiakawanan
Diintegrasikan pada saat kegiatan bercerita/dis-kusi misalnya mengenai kegiatan koperasi, pemberian sumbangan
Hormat-menghormati
Diintegrasikan pada saat menyanyikan lagu-lagu tentang hormat menghormati, saat kegiatan bermain drama.
Sopan santun
Diintegrasikan pada kegiatan bermain drama, berlatih membuat surat.
Jujur
Diintegrasikan pada saat melakukan percobaan, menghitung, bermain, bertanding.

D.    PENUTUP
Terwujudnya  manusia  Indonesia  yang  bermoral,  berkarakter  ,  berakhlak mulia  dan  berbudi  pekerti  luhur  merupakan  tujuan  dari  pembangunan  manusia Indonesia  yang  selanjutnya  diimplementasikan  kedalam  tujuan  pendidikan nasional. Pada tataran demikian maka pendidikan yang berorientasikan pada nilai moral,  ahklah  dan  budi  pekerti  menjadi  penting  dan  sebagai  bagian  tidak terpisahkan  dari  sistem  pendidikan  di  Indonesia.  Disamping  itu  adanya  gejala-gejal  dekadensi  moral  di  kalangan  warga  dan  penyelenggara  negara  semakin menguatkan akan pentingnya pendidikan nilai moral atau budi pekerti .
Namun  ironis  memang  dalam  implementasi  di  lapangan  bahwa  pendidikan budi  pekerti  kurang  mendapat  perhatian dari  para  pelaku  pendidikan  itu  sendiri. Sebagian  meremehkan  akan  keberadaan  mata  pelajaran-mata  pelajaran  yang bermisikan pendidikan budi pekerti. Bahkan pelajaran agama dan PPKn dianggap telah  gagal  dalam  menjalankan  misinya  ketika  dekadensi  moral  bangsa  akhir-akhir  ini  menggejala.  Semua  seakan  dibebankan  saja  pada  pangajar  pada  kedua bidang itu. 
Budi  pekerti  bukan  milik  para  guru  agama  atau  PPKn  saja  namun hendaknya disadari sebagai kepentingan bersama segenap warga bangsa. Adalah menjadi  tanggung  jawab  bersama  untuk  membina  budi  pekerti  generasi  muda. Oleh  karena  itu  pendidikan  budi  pekerti  dalam  pembelajarannya  perlu diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran. Kiranya sudah tepat strategi yang dipakai  dalam  Kurikulum  2004  yaitu  pengintegrasian  pendidikan  budi  pekerti. Kurikulum  ini  nantinya  mulai  berlaku  pada  bulan  Juli  2004  pada  jenjang pendidikan dasar dan menengah. 
Menjadi harapan kita bahwa budi pekerti membudaya di kalangan pendidik yang  tidak  terbatas  di  sekolah  tetapi  di  semua  lingkungan  pendidikan. Selanjutnya  mampu  membawakan  pendidikan  budi  pekerti  ini  didalam implementasi pembelajaran dan kegiatan .



DAFTAR PUSTAKA :

·           Aziz Toyibin &,Kosasih Djahiri. 1997. Pendidikan Pancasila. Jakarta : Rineka Cipta 
·           Azyumardi  Azra.  2001  Pendidikan  Pancasila  dan  Kewiraan  Gagal  Sosialisasikan Demokrasi www.Kompas.com
·           Garis Besar Haluan Negara 1999-2004. www.mpr.go.id
·           Ketetapan MPR tahun 1998. www.mpr.go.id
·           Kurikulum  Berbasis  Kompetensi  Mata  Pelajaran  Budi  Pekerti  untuk  kelas  I-VI. Buram ke-6 Juli 2001. Jakarta: Puskur www.puskur.or.id
·           Kosasih  Djahiri  &  Aziz.  Wahab  1996.  Dasar  Konsep  Pendidikan  Moral.  Dikti. Depdikbud. Proyek Pendidikan Tenaga Akademik : Jakarta
·           Maman Rachman. 2003. Implementasi Pendidikan Budi Pekerti dalam Keterpaduan Pembelajaran. Makalah tidak diterbitkan www.diknas.go.id
·           Maman  Rachman.  2001.  Reposisi,  Re-Evaluasi  dan  Redefinisi  Pendidikan  Nilai. Makalah tidak diterbitkan. www.diknas.go.id
·           Undang-undang  No  20  tahun  2003  tentang  Sistem  Pendidikan  Nasional. www.ri.go.id
·           Winarno.  2000. Dasar  Konsep  Pendidikan  Moral.  Surakarta  :  Laboratorium  PP-Kn FKIP UNS 

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Toggle Footer